Desa Panji Eco Village
Kabupaten Buleleng yang membentang di Bali Utara menyimpan pesona panorama alam dan budaya yang khas, menawarkan wajah Bali yang berbeda dari kawasan selatan atau timur. Sebagai kabupaten terluas di Pulau Bali dengan topografi unik Nyegara Gunung yang memadukan laut dan perbukitan, Buleleng kini gencar mengembangkan potensi pariwisatanya. Salah satu wujud nyatanya adalah Desa Panji, sebuah kawasan yang telah resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata berdasarkan Keputusan Bupati Buleleng Nomor 430/239/HK/2022. Desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Sukasada ini berjarak sekitar 3 kilometer ke arah selatan dari ibu kota kecamatan, atau sekitar 92 kilometer dari Kota Denpasar dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan mobil. Secara geografis, wilayah Desa Panji berbatasan langsung dengan Desa Baktiseraga di sebelah utara, Desa Wanagiri di sebelah selatan, Desa Panji Anom di sebelah barat, dan Desa Sambangan di sebelah timur. Dengan luas wilayah mencapai 1.061,79 hektar, desa ini secara administratif terbagi menjadi tujuh dusun atau banjar dinas yang sekaligus berfungsi sebagai banjar adat, meliputi Kelod Kauh, Dangin Pura, Dauh Pura, Mandul, Babakan, Bangah, dan Mekar Sari. Akses jalan yang menghubungkan pusat pemerintahan desa dengan dusun-dusun tersebut sebagian besar sudah berupa jalan aspal yang mulus, sehingga sangat nyaman dilalui oleh kendaraan roda dua, roda empat, bahkan bus pariwisata. Wisatawan yang ingin berkunjung dapat memilih tiga jalur utama, yaitu jalur timur melalui Kintamani dan Singaraja, jalur barat melalui Tabanan dan Seririt, serta jalur selatan dari Denpasar melewati jalan raya Bedugul. Berada pada ketinggian berkisar antara 200 hingga 700 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 1.600 milimeter per tahun, Desa Panji dianugerahi tanah yang sangat subur dengan bentang alam bervariasi antara kawasan datar dan miring. Karakteristik alam ini tecermin dari tata guna lahannya yang didominasi oleh sektor agraris, di mana lahan pertanian sawah menempati porsi terbesar seluas 502 hektar atau sekitar 47,27 persen dari total wilayah. Selebihnya dimanfaatkan untuk kawasan perkebunan rakyat seluas 78 hektar, lahan tegalan atau ladang seluas 76,75 hektar, pemukiman warga seluas 63 hektar, hutan desa seluas 52 hektar, fasilitas bangunan seluas 30,85 hektar, serta area lainnya. Angka-angka ini menegaskan bahwa mayoritas penduduk Desa Panji menggantungkan hidup dan mata pencaharian mereka di bidang pertanian. Sadar akan besarnya potensi tersebut, pemerintah desa bersama masyarakat aktif berinovasi hingga sukses menyabet berbagai penghargaan bergengsi, seperti Desa Proklim terbaik tingkat nasional, peringkat 20 besar dari 5.000 Desa Brilian versi Bank Rakyat Indonesia, tata kelola air terbaik, hingga sertifikat warisan budaya takbenda untuk tradisi megoak-goakan. Melangkah lebih dalam, nama Desa Panji memiliki ikatan sejarah yang sangat kuat dengan sosok legendaris Ki Anglurah Panji Sakti, pendiri Kerajaan Buleleng. Kisah lisan setempat menyebutkan bahwa beliau adalah putra dari Dalem Segening yang lahir dengan keajaiban berupa pancaran cahaya terang di atas kepalanya. Pada usia 12 tahun, beliau diperintahkan meninggalkan Swecapura Gelgel untuk menetap di Den Bukit, tanah kelahiran ibundanya, Ni Luh Pasek, yang berasal dari Desa Panji. Dalam pengembaraannya menuju utara bersama empat puluh orang pengikut setianya, beliau bertemu dengan sesosok makhluk gaib bertubuh tinggi besar bernama Ki Panji Landung di dekat Danau Buyan. Makhluk tersebut mengangkat sang pangeran tinggi-tinggi untuk memperlihatkan lautan luas di utara, perbukitan, serta pegunungan di timur dan barat, sebagai pertanda bahwa seluruh wilayah yang dipandangnya kelak akan menjadi daerah kekuasaannya. Setelah berhasil mengalahkan penguasa setempat bernama Ki Pungakan Gendis, Ki Anglurah Panji Sakti pun membangun kejayaan Buleleng yang gaungnya terdengar hingga ke seluruh jagat Bali dan Jawa. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu kini menjelma menjadi warisan budaya dan situs religi yang disakralkan. Salah satunya adalah tradisi permainan megoak-goakan yang wajib digelar oleh masyarakat sehari setelah hari raya Nyepi. Permainan ini terinspirasi dari ketangguhan pasukan elite bentukan sang raja yang bernama Pasukan Goak Barak, sebuah legiun beranggotakan empat puluh orang sakti yang secara sukarela membantu Buleleng menaklukkan Kerajaan Blambangan. Selain tradisi yang hidup, jejak fisik sang raja juga dapat dijumpai di Pura Pajenengan, yang dahulunya merupakan puri tempat peristirahatan beliau. Setelah Ki Anglurah Panji Sakti wafat dengan cara moksa atau hilang tanpa meninggalkan jenazah, tempat pamereman tersebut dialihfungsikan menjadi sebuah pura. Nama Pajenengan sendiri bermakna tempat penyimpanan benda-benda pusaka, karena di dalam pura ini tersimpan keris pusaka, tombak, serta barang-barang pecah belah kuno asal China. Pura ini memegang peranan penting secara emosional dan historis bagi masyarakat setempat serta keturunan puri sebagai sarana memohon keselamatan, restu kepemimpinan, sekaligus pemersatu keluarga besar Dinasti Panji Sakti. Tidak jauh dari pusat sejarah kerajaan, Desa Panji juga menyimpan warisan budaya kuno berupa situs Gendis yang ditandai dengan penemuan lesung batu peninggalan masa pra-Panji Sakti, serta Goa Raksasa yang kini menjadi tempat meditasi sepi. Goa Raksasa ini menyimpan cerita rakyat tentang makhluk besar misterius yang gemar menculik penari rejang pada barisan paling terakhir, dan hingga kini di sana masih terdapat sebuah batu yang memuat jejak telapak kaki berukuran raksasa. Nilai spiritual desa semakin diperkaya oleh keberadaan Pura Desa yang menjadi tempat pemujaan Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan pencipta alam semesta. Pembangunan Pura Desa ini merujuk pada konsep Pura Kahyangan Tiga yang digagas oleh Mpu Kuturan pada masa pemerintahan Raja Sri Dharma Udayana dan Gunapriya Dharmapatni sekitar abad ke-11 Masehi, sebagai solusi sosial-religius untuk menyatukan berbagai sekte keagamaan di Bali yang kala itu rentan memicu konflik horizontal. Sebagai desa wisata yang komprehensif, Desa Panji tidak hanya mengandalkan wisata sejarah dan budaya, melainkan juga menyajikan bentang alam yang dikemas secara kreatif menjadi destinasi wisata berbasis komunitas dan lingkungan. Di sektor agrowisata, desa ini memiliki program mina padi yang mengombinasikan pertanian padi organik berterasering dengan budidaya ikan nila, memberikan panorama sawah hijau berundak yang menyejukkan mata. Produk padi yang dihasilkan di kawasan ini bahkan telah mengantongi sertifikasi nasional, di mana wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman otentik menjadi seorang petani. Di sudut lain, Kelompok Wanita Tani Desa Panji turut mengelola perkebunan organik dengan menanam aneka sayuran segar seperti pokcoy, kangkung darat, kacang panjang, tomat, dan cabai yang dapat dipetik langsung oleh pengunjung saat musim panen tiba. Untuk wisatawan yang ingin rehat sejenak, Ranggon Kedu menawarkan konsep rumah panggung tinggi di atas hamparan sawah membentang yang dilengkapi fasilitas kuliner, sementara Pancoran Kedu menyajikan tempat pemandian alami berjenjang yang tenang karena letaknya yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Bagi pencinta petualangan dan alam liar, wilayah dataran tinggi Desa Panji menyimpan sejuta pesona tersembunyi. Ada Kayoan Tembuku Paras, sebuah destinasi pemandian yang memanfaatkan aliran air alami menyegarkan, lengkap dengan fasilitas modern seperti wahana water slide, area camping, dan penyewaan vila berpemandangan sawah. Di titik yang paling tinggi dan terjaga, terdapat Virgin River, sebuah sungai berair jernih yang bebas dari pencemaran zat kimia karena adanya larangan penggunaan sabun atau detergen bagi siapa saja yang beraktivitas di sana. Aliran air ini juga mengarah pada keindahan Rainbow Waterfall, sebuah air terjun eksotis yang kerap memunculkan fenomena pelangi indah di antara pukul 11 siang hingga jam 2 siang. Seluruh petualangan alam ini bermuara di Wana Shanti, sebuah kawasan hutan desa yang damai dan asri. Di dalam hutan ini, wisatawan dapat menjelajahi tiga air terjun tersembunyi sekaligus, yaitu Air Terjun Cemara, Air Terjun Dedari, dan Air Terjun Canging, yang masing-masing memancarkan karakter serta pesona magisnya sendiri. Keunikan Desa Panji semakin lengkap dengan keberadaan dua situs bersejarah yang melambangkan perjuangan dan strategi pertahanan. Di puncak sebuah bukit, berdiri Pura Penggorengan yang dinamai demikian karena bentuk areanya menyerupai wajan penggorengan. Selain berfungsi sebagai tempat bertapa dan meditasi, pada masa kolonial tempat tinggi ini digunakan oleh para pemuda desa sebagai pos pengintaian strategis untuk memantau pergerakan kapal-kapal militer Belanda yang berlabuh di Pelabuhan Buleleng. Informasi dari hasil pengintaian tersebut kemudian disebarkan secara berantai oleh para pejuang yang bersiaga di sepanjang lereng bukit hingga mencapai Desa Ambengan dan Bukit Balu. Tidak kalah monumental, desa ini juga menjadi rumah bagi Monumen Nasional Bhuana Kerta, sebuah tugu peringatan seluas 1,350 hektar yang menjadi bukti nyata dari heroisme rakyat Bali dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah berdirinya Monumen Bhuana Kerta bermula dari sebuah ikrar suci yang diucapkan oleh para pejuang kemerdekaan Bali Utara pada tanggal 17 Januari 1948. Ketika terdesak secara material oleh pasukan Belanda, mereka bersumpah bahwa jika Republik Indonesia memenangkan peperangan, mereka akan membangun sebuah Pura Republik di tempat tersebut, yang ditandai dengan penanaman dua pohon beringin berjarak 17 meter. Setelah Indonesia sepenuhnya merdeka, konsep Pura Republik tersebut diwujudkan dalam bentuk monumen nasional agar dapat merangkul seluruh pejuang dari berbagai latar belakang suku dan agama. Peletakan batu pertama pembangunan monumen ini dilakukan pada tanggal 31 Maret 1966 dengan merancang bangunan setinggi 17 meter yang sarat akan simbolisme kemerdekaan. Puncak monumen yang berbentuk padmasana dan api melambangkan anugerah kemerdekaan dari Tuhan, dikelilingi oleh delapan helai daun teratai atau asthadala sebagai lambang bulan Agustus. Sementara itu, badan monumen sengaja dibuat polos tanpa ukiran sebagai simbol kesucian dan kejujuran perjuangan, yang ditopang oleh struktur dulang bawah bercelah 45 buah sebagai representasi dari tahun kemerdekaan 1945. Perpaduan harmonis antara kekayaan agraria, bentang alam yang asri, keagungan sejarah kerajaan, serta nilai-nilai patriotisme inilah yang menjadikan Desa Wisata Panji sebagai cerminan wajah Bali yang utuh dan menyeluruh di bagian utara pulau dewata.








